Jangan Menyerah

Di sebuah desa terpencil hiduplah seorang tua beserta ketiga orang putranya. Dipenghujung hidupnya, ia mengumpulkan ketiga orang putranya sembari membagi warisan.

Abdul anak pertama mendapatkan warisan berupa kerbau, anak kedua, Salim mendapatkan warisan berupa bajak, sedangkan Sani anak ketiga mendapat beberapa benih padi. Sawah mereka yang 6 hektar dibagi sama rata, masing-masing mendapat bagian 2 hektar.

Sebelum ajal menjelang, Ia sempat berpesan kepada anak-anaknya bahwa ketika matahari mulai terbit, sekelompok semut mulai bekerja mencari makanan, dan kembali ke sarangnya di saat malam telah larut. Ia juga berpesan agar anak-anaknya jangan saling melupakan dan selalu berkumpul saling melindungi satu sama lain.

Sepeninggal sang ayah, Abdul memutuskan untuk mengadu nasib ke kota, begitu juga Salim. Mereka berdua berpikir untuk mulai mengubah nasib mereka agar menjadi lebih baik. Sani sempat mengingatkan kedua kakaknya akan pesan ayah mereka agar mereka saling berkumpul dan tidak terpisah. Namun mereka berdua tidak menggubris pesan ayah mereka.

Ketika hendak pergi ke kota, sawah dan harta warisan mereka jual dengan alasan dijadikan modal usaha di sana. Namun uang hasil penjualan itu mereka gunakan untuk berjudi dan minum-minuman di kota karena mereka kalah bersaing dengan para kaum urban di sana.

Sementara Sani terus saja memikirkan pesan terakhir dari ayahnya. Hari demi hari ia selalu memikirkan pesan ayahnya itu. Suatu hari ketika ia berjalan di sawah, Ia tersandung hingga terjatuh dan tersungkur di depan sarang semut. Ia memperhatikan semut yang asyik bekerja. Akhirnya Ia mangut-mangut seakan terinspirasi oleh cara kerja semut sehingga mengerti akan nasihat orang tuanya.

Para semut mengajarkan untuk bekerja keras dan saling tolong menolong satu sama lain. Tak pelak, kemudian Ia pun segera mencari kayu di hutan dan segera membuat bajak, dengan sekantung bibit ditangannya, ia mulai menanami sawahnya yang dua hektar, ia membajak sawahnya dengan ia sendiri sebagai kerbaunya.

Ketika ayam berkokok ia sudah berada di sawah dan baru pulang ketika matahari terbenam. Ia bekerja tak kenal lelah siang dan malam.

Beberapa tahun kemudian, berkat usahanya yang tak kenal lelah,akhirnya ia menjadi petani yang sukses. Ia mampu mengangkat banyak karyawan, hampir semua areal persawahan di desanya ia yang memilikinya.

Namun Sani masih saja merasa kekurangan karena sudah lama tidak berjumpa dengan kedua orang kakaknya, sudah sekian lama ia mencari kedua kakaknya ke kota, namun tetap saja tidak bertemu.

Pada suatu hari, datanglah dua orang peminta-minta ke rumahnya, Peminta-minta itu tidaklah lain kedua orang kakak Sani. Mereka berdua merasa malu pada Sani karena dahulu tidak mendengarkan nasihat ayah mereka dan menelantarkan Sani seorang diri. Dengan bijak Sanipun akhirnya memaafkan kesalahan mereka dan mengajak kedua kakaknya untuk tinggal bersama. Akhirnya, Sani bersama kedua kakaknya hidup bahagia